UPT MKG ITERA ADAKAN SEMINAR NASIONAL KEBENCANAAN – 2 BERBASIS ONLINE

Dalam rangkaian kegiatan DIES NATALIS ITERA Ke-6 serta dalam program kebencanaan UPT MKG ITERA menyelenggarakan Seminar Nasional Kebencanaan Ke-2 secara Online. Pada kesempatan kali ini UPT MKG ITERA menghadirkan beberapa ahli kebencanaan serta mitigasi. Kegiatan seminar ini  juga turut mengundang badan-badan terkait seperti BPBD , Kepala Stasiun BMKG di Provinsi Lampung meliputi Stasiun Meteorologi, Stasiun Klimatologi, Stasiun Geofisika dan Stasiun Meteorologi Maritim  serta komunitas relawan lampung. Dipandu oleh Moderator dari Program Studi Teknik Geologi yaitu Alviyanda,S.T.,M.T.

Pada kesempatan kali ini , Keynote Speaker pada kegiatan ini adalah Kepala BMKG Indonesia yakni Ibu Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc.,Ph.D sebagai pembuka materi ini dalam tema Peran Generasi Muda Sebagai Penopang Pembangunan Berkelanjutan dan Pelopor Tanggap Bencana dalam Bidang Meteorologi,Klimatologi, dan Geofisika. Menurut beliau sebagai Generasi Muda harus berperan handal dalam mitigasi bencana. Generasi Muda Harus paham apa apa saja tantangan yang harus dihadapi mengenai kebencanaan yang patut diwaspadai di Indonesia.  Kompleksitas Cuaca di Indonesia yang berdampak pada La Nina dan El nino yang dapat menambah secara massif pula peningkatan curah hujan di Indonesia.

Pada seminar tersebut Ibu Dwikorita menjelaskan bahwa perlu disiapkan generasi muda ini benar-benar handal dalam berperan untuk pengurangan risiko bencana mohon agar para generasi muda memahami apa yang dihadapi di kepulauan Indonesia berada diantara dua benua dan dua samudra sehingga fenomena meteorologi dan klimatologi sangat kompleks dan dinamis terlihat adanya pengaruh Samudra Pasifik Hindia terjadinya aliran udara basah apa aliran masa-masa yang masif kepulauan Indonesia secara masif pula yang ada di kepulauan Indonesia kenapa Itu terjadi karena melampaui minus setengah derajat Celcius seperti yang terjadi sekarang minus 1 derajat Celcius artinya menuju ke La Nina menengah dan itu tentunya dapat menambahkan curah hujan di Indonesia saat ini memasuki musim hujan sehingga curah hujan bisa meningkat 20 sampai 40% bahkan bisa lebih dari 40% daripada curah hujan bulanan yang normal ini pengaruh dari La Nina sebaliknya bisa terjadi punk air massa udara yang ada di kepulauan Indonesia sehingga menimbulkan di wilayah Indonesia. Generasi muda untuk memperdalam ilmu-ilmu yang terkait tentang information communication teknologi (ICT) sebagai intergrasi Teknologi dan Ilmu Pengetahuan menuju perkembangan Artificial Inteligence dalam mitigasi bencana alam. Sistem instrumen new Generation adalah sistem untuk memberikan informasi Kejadian gempa bumi 5 sampai 4 menit setelah gempa terjadi sehingga apabila gempa berpotensi Tsunami bisa diketahui secara dini sehingga golden time yang bisa jadi lebih panjang ini ,silakan generasi muda menemukan sistem-sistem yang baru untuk dapat menyelamatkan jiwa manusia.

Pemateri Berikutnya ialah Bapak Dr. Adrin Tohari,M.Eng (Kepala Laboratorium Divisi Geoteknik LIPI) dengan memaparkan Perkembangan Mitigasi Bencana Tanah Longsor di Indonesia. Bahaya tanah longsor sebagian besar ini akan terkait dengan hasil penelitian dan pengembangan yang kami lakukan di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia sejak tahun 2009 sampai dengan 2017 mengapa teknologi pembangunan bahaya tanah longsor sangat penting karena teknologi inilah yang akan membantu kita mengurangi risiko teknologi inilah yang akan membantu kita untuk memberikan kewaspadaan pada masyarakat untuk segera menjauhi daerah yang sudah berpotensi longsor jadi teknologi inilah yang akan membantu pihak-pihak terkait untuk mencegah dan mengurangi resiko bahaya tanah longsor di daerahnya masing-masing. Tanah longsor itu tidak hanya satu bentukan saja tapi dia bisa mempunyai bentuk yang berbeda yang berbeda-beda di tiap-tiap daerah yang dipengaruhi oleh kondisi geologi hidrologi dan juga mungkin kemiringan lereng. Tanah longsor itu bisa dibagi menjadi yang sangat sangat lambat hingga yang sangat cepat dengan kecepatan dari 16 mm per tahun hingga mencapai 5 meter per detik. Kejadian bencana longsor yang terjadi di Banjarnegara pada tahun 2014 yang lalu akhir tahun 2014 yang lalu oke untuk lebih jelasnya itu disebabkan oleh proses penjenuhan lapisan tanah dekat permukaan akibat hujan deras durasi singkat. Di daerah Sukabumi itu dibutuhkan hujan 330 mili dengan durasi 8 hari untuk menyebabkan terjadinya perubahan dari kondisi hidrologi lereng sebelum terjadinya longsoran lalu hujan pemicunya itu cukup 20 mili per hari hujan penyebab perubahan kondisi kondisi hidrologi lereng itu cukup besar 330 mili dengan durasi 8 hari tapi pemicunya itu cukup hujan yang dengan intensitas yang 20 mm per hari. Untuk bisa menetapkan suatu sistem peringatan dini efektif maka kita perlu memahami jenis longsornya pergerakannya seperti apa Apakah bergerak cepat atau bergerak lambat Sehingga nantinya semua data-data yang dimainkan di lapangan itu di lokasi ancaman gerakan tanah itu bisa dapat digunakan untuk deteksi dini dan menghasilkan peringatan dini yang efektif.

Pada paparan selanjutnya ialah dari Prof. Ir. Sri Widiyantoro, M.Sc.,Ph.D.,IPU ( Kepala Pusat Studi Gempa Nasional/PusGEN/ Kelompok Keahlian Geofisika Global, FTTM-ITB ) memberikan materi dengan judul Identifikasi Bencana Gempa Bumi dan Tsunami berdasarkan Interdisiplin Ilmu Kebumian di Indonesia. . Penelitian tersebut akan terus dilakukan sebagai upaya mitigasi bencana di Indonesia. Negara Indonesia memiliki kepulauan yang sangat banyak dari Barat sampai Timur dan dilalui Ring Of Fire, sebagai generai muda patut melakukan Studi bencana untuk Indonesia Timur. Dalam upaya tersebut , Pusat Studi Gempa Nasional bersama badan terkait telah melakukan instalasi 10 Broadband Seismic Stations di Bulan Januari untuk memperkuat jaringan kegempaan di Indonesia bersama 6 Broadband Seismic BMKG yang telah terinstal sebelumnya. Selanjutnya , melakukan instalasi OBS (Ocean Bottom Seismic) di selat makasar. Pada paparan materi ini juga membahas mengenai Potensi Tsunami Selatan Jawa yang berpotensi memiliki ketinggian 20 Meter. Dalam kajian Potensi yang sempat viral tersebut berjudul ‚ÄúImplications For Megathrust Earthquakes and Tsunamis from Seismic Gaps South of Java Indonesia‚ÄĚ yang berkalobator antara lain Prof. Nick Rawlinson (Univ. Cambridge) , Prof. Sri Widiyantoro (ITB), Dr. Pepen Supendi (BMKG) dan beberapa peneliti lain yang terkait. Menjelaskan bahwa dalam riset tersebut bukan memberikan prediksi kapan terjadinya gempa namun menjelaskan Potensi yang akan terjadi jika bencana tersebut muncul. Penelitian tersebut akan terus dilakukan sebagai upaya mitigasi bencana di Indonesia. Riset mengenai megatrust pula didapat dari sejarah tsunami yang telah terjadi di Indonesia di Tahun 1994 dan 2006 di Banyuwangi. Penelitian mengenai gempa dan tsunami di Selatan Jawa masih akan terus dipantau menggunakan beberapa metode diantaranya metode seismic gap dan inversi data GPS.

Pada pemaparan berikutnya mengenai Generasi Muda sebagai Pelopor Tanggap Bencana dipaparkan oleh Kepala Kantor Pertolongan dan Pencarian Kelas A , Basarnas Lampung yaitu Bapak Jumaril, S.E.,M.M. Pada materi ini beliau menjelaskan mengenai landasan hukum serta potensi SAR yang bisa dilakukan generasi muda sebagai Langkah dalam mitigasi bencana dan kecelakaan. Tugas Utama BASARNAS diantaranya Kecelakaan Penerbangan, Kecelakaan Pelayaran, Bencana (Saat Tanggap Darurat), Kondisi Membahayakan Manusia, Kecelakaan Dengan Penanganan Khusus. Adapun kegiatan SAR terdiri dari 5 tahapan yaitu Tahap Menyadari  (Awarness Stage), Tahap Tindak Awal (Initial Action Stage), Tahap Perencanaan (Planning Stage), Tahap Operasi (Operation Stage), dan Tahap Akhir Tugas (Mission Conclussion). Peran Mahasiswa sebagai generasi muda untuk menjadi tim penolong/SAR harus memiliki beberapa kriteria seperti Kondisi Fisik Yg Prima, Memiliki Kemampuan SAR, Memiliki Pengetahuan, Memiliki Keterampilan / Keahlian, dan Kematangan Emosional dan Ikhlas. Generasi muda juga memiliki fisik dan fikiran yg masih fresh serta memiliki rasa ingin tau yg tinggi, Pemuda familiar dgn teknologi informasi, inovasi dan sains dan Pemuda memiliki komunitas luas terutama melalui medsos dan elektronik.

BASARNAS juga telah memiliki sistem pencarian yakni Sistem Deteksi Dini Incident pelayaran/penerbangan, bencana dan Kondisi Membahayakan Manusia dapat dideteksi sedini mungkin supaya usaha pencarian, pertolongan dan penyelamatan dapat dilaksanakan dengan cepat yang dinamakan dengan BEACON ( Alat Pemancar Signal Marabahaya ). Kepala BASARNAS lampung berpesan kepada para peserta agar Rencanakan dgn baik aktifitas yg akan dilaksanakan, Persiapkan segala kebutuhan selama aktifitas berlangsung, Siapkan rencana kedaruratan, termasuk penyiapan peralatan utk penyelamatan, dan Perhatikan cuaca.

Pada Seminar Nasional Online UPT MKG ini juga diumumkan pemenang dari Kompetisi Fotografi Nasional dimana pemenangnya terpilih 6 peserta , yaitu 3 Juara Utama dan 3 juara harapan. Juara Pertama diraih oleh Rendi Prayoga asal dari Universitas Negeri Padang, Juara 2 diraih oleh Rahmad Arizki dari Institut PLN , serta Juara 3 diraih oleh Jubey Simanjuntak yang berasal dari DEL Institute. Kemudian ditambah 3 juara harapan yaitu Harapan Pertama Deni Gustiyan dari Universitas Lampung, Harapan kedua Yasyafri Evo dari ITERA dan Harapan ketiga yaitu Ishmah dari SMAN 44 Jakarta. Kepala UPT MKG , Drs. Zadrach L. Dupe berharap kegiatan seperti ini akan menjadi kegiatan yang akan terus diselenggarakan serta peningkatan kegiatan menuju Internasional Event untuk mengudarakan nama ITERA lebih tinggi lagi.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *