UPT MKG ITERA Selenggarakan Webinar Bencana Hidrometeorologi akibat Perubahan Iklim Indonesia

Sesuai dengan fenomena kebencanaan yang sedang terjadi di Indonesia terutama dari dampak perubahan iklim yaitu Bencana Hidrometeorologi. UPT MKG menyelenggarakan Seminar Online (Webinar) yang menghadirkan 4 narasumber kompeten dalam bidang perubahan iklim diantaranya Dr. Ir. Dodo Gunawan, DEA ( Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim BMKG Indonesia ) , Dr. rer. Nat. Armi Susandi, M.T ( Pakar Perubahan Iklim Institut Teknologi Bandung , ITB ), Budi Satria, S.Si ( Kepala Stasiun BMKG Klimatologi Pesawaran, Lampung), dan Drs. Zadrach L. Dupe, M.Si ( Kepala UPT MKG Institut Teknologi Sumatera,ITERA ).

Pada pemaparannya, Dr. Ir. Dodo Gunawan, DEA memberikan materi dengan tema Fenomena Bencana Hidrometeorologi Akibat dari Perubahan Iklim menjelaskan bahwa dalam menanggulangi adanya bencana yang disebabkan oleh hidrometeorologi , peningkatan Early Warning System Kebencanaan harus pula disertasi dengan aksi dini (Early Action). Pendukung adanya Early Warning System yaitu Kementrian serta Badan seperti BMKG yang telah menyediakan system TEWS ( Tsunami), MEWS (Cuaca) dan CEWS (Iklim). Sistem Peringatan Multi Bencana (MHEWS) juga merupakan bagian dari sistem mitigasi bencana itu sendiri.
Beliau juga menyampaikan mengenai Tren Iklim 2020 di Indonesia diantaranya :
• Pada tahun ini, diperkirakan tidak terdapat anomali iklim global (El Nino, La Nina dan Dipole Mode)
• Iklim tahun 2020 diprediksi mirip seperti kondisi normalnya (rata-rata 30 tahun)
• Meski musim hujan dan musim kemarau tahun ini diprediksi normal namun tetap harus diperhatikan :
o Munculnya gangguan intra-musiman seperti MJO dan siklon tropis yang dapat meningkatkan jumlah curah hujan dasarian di saat musim kemarau.
o Selama musim hujan : potensi banjir di daerah yang diprediksi mendapatkan curah hujan bulanan lebih besar dari 300 mm/bulan
o Selama musim kemarau : potensi kekurangan air bersih dan karhutla di daerah yang diprediksi mendapat curah hujan bulanan kurang dari 20 mm/bulan
• Perubahan iklim telah nyata terjadi di Indonesia, berdasarkan data pengamatan BMKG (GRK, suhu udara, hujan dan tutupan es Jayawijaya)

Pada paparan materi kedua yang dijelaskan oleh Dr. rer. nat. Armi Susandi, M.T yang bertemakan Adaptasi – Mitigasi Perubahan Iklim dan Bencana Hidrometeorologi di Masa Depan mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki sistem cuaca yang kompleks yang sering menyebabkan bencana. Kemampuan digital sangat mudah dan murah didapatkan , maka Generasi Muda harus dapat memanfaatkannya semaksimal mungkin. Teknologi digital dapat kita manfaatkan untuk meningkatkan kesiapan kita dalam menghadapi bencana. Kemampuan Digital ini dapat digunakan generasi muda sebagai ciri khas penanggulangan bencana hingga 2045.

Pada Materi selanjutnya yang dijelaskan oleh Budi Satria, S.Si selaku Kepala Stasiun BMKG Klimatologi Pesawaran yag membawakan tema Bencana Hidrometeorologi di Provinsi Lampung dalam Perspektif Perubahan Iklim. Beliau memaparkan kebencanaan hidrometeorologi yang terjadi di Provinsi lampung yakni Terdapat kenaikan suhu 0.2 dari hasil pengukuran di stasiun klimatologi pesawarn lampung dari 2(dua) dekade terakhir ,Trens curah hujan meningkat 3.77 mm pertahun, serta Curah hujan di musim kemarau turun 1.44 mm / tahun dan di musim hujan meningkat 5.19 mm / tahun yang menyebabkan Lampung memiliki pola curah hujan Monsunal, dimana pada grafik diatas terlihat musim kemarau terjadi pada bulan Mei hingga Oktober, sedangkan musim hujan terjadi pada bulan November hingga April.

Dan untuk materi terakhir dijelaskan oleh Kepala UPT MKG ITERA , Drs. Zadrach L. Dupe, M.Si yang membawakan materi tentang Dampak Krisis Iklim Terhadap Kualitas Hidup Manusia. Menurut beliau Krisis Iklim terjadi dipengaruhi olek aktifitas manusia selama ini. Aktifitas manusia diantaranya yang menyebabkan krisis iklim adalah pencemaran lingkungan, efek global warming, pembukaan lahan pada hutan hujan yang disebut dengan Humanosfer. Beliau memaparkan bahwa butuh waktu 6 Tahun untuk Manusia bertambah sekitar 2-5 Juta orang di Dunia. Pertambahan manusia tersebut menyebabkan terjadinya krisis iklim karena semakin tinggi jumlah penduduk maka semakin tinggi pula aktifitas manusia yang menyebabkan krisis iklim ( Bumi terlalu berat menanggung Beban ). Jadi dapat disimpulkan komponen iklim diakibatkan oleh aktifitas manusia yang menyebabkan adanya perubahan iklim berdampak pada cuaca ekstrim yang akan mengganggu kualitas hidup manusia.

Dalam webinar perubahan iklim dan bencana hidrometeorologi ini berhasil mengumpulkan peserta hingga 1039 peserta dari berbagai instansi / perguruan tinggi se-Indonesia. UPT MKG ITERA sebagai fasilitator kegiatan ini mengharapkan informasi mengenai hidrometeorologi dan bencana yang terjadi dapat menjadi edukasi dan pengetahuan bagi para peserta webinar. Selanjutnya webinar mkg akan menyelenggarakan webinar selanjutnya yang bertemakan kebumian dan kelautan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *