INDAH ALAM INDONESIA NAMUN BERPOTENSI BENCANA ?

WEBINAR KEBENCANAAN NASIONAL KE-3 UPT MKG :

POTENSI BENCANA DAN PERAN PENTAHELIX DALAM MANAJEMEN KEBENCANAAN DI INDONESIA

Kerentanan Bencana Alam merupakan suatu topik yang sangat krusial untuk dibahas. Dalam memperingati Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada tanggal 28 oktober 2021 , UPT MKG ITERA Mengadakan Webinar Nasional Kebencanaan Ke-3 dengan tema Potensi Bencana dan Peran Pentahelix dalam Manajemen Kebencanaan di Indonesia yang dipandu oleh Moderator , Ketua Masyarakat Tanggap Bencana ITERA (MTB ITERA) yakni Bapak Muhammad Ulin Nuha, S.T.,M.Eng. Pada webinar kali ini dibuka oleh Bapak Acep Purqon, Ph.D selaku Ketua LP3 ITERA, Beliau mengungkapkan bahwa dalam Mitigasi Kebencanaan mengandung beberapa Pilar. Pilar pilar yang perlu dalam manajemen kebencanaan

  1. Fasilitas pendidikan Aman Bencana
  2. Manajemen kebencanaan di sekolah
  3. Pendidikan dan pengajaran mengenai Kebencanaan dan ketahanan

Optimalisasi Peran Pentahelix dalam Upaya Mitigasi Bencana Alam juga di ungkapkan oleh Bapak Rudi Syawal Sugiharto, SE., M.H selaku Kepala BPBD Provinsi Lampung sekaligus Narasumber yaitu Penanggulangan Bencana harus melalui pendekatan Pentahelix, yakni antara unsur pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat serta dukungan media massa.

Prov lampung berada di urutan ke 14 daerah rawan bencana  yang memiliki resiko tinggi dengan skor 149.96

Beberapa Upaya Kolaboratif penanggulangan Bencana yang telah dilakukan oleh BPBD

  1. Penyusunan dokumen perencanaan bencana daerah
  2. Pembentukan forum pengurangan risiko bencana
  3. Penyusunan buku saku kebencanaan
  4. Pembentukan Forum Relawan bencana
  5. Pelatihan Gladi/ Simulasi bencana (kesiapsiagaan dan respon cepat).

Penyelenggaraan penanggulangan bencana adalah urusan Bersama. Oleh karena itu sinergitas penanggulangan bencana dapat menjadi peluang bagi peningkatan kapabilitas penanggulangan bencana daerah. Koordinasi dan kolaborasi antara pentahelix bisa menjadi tolak ukur kesuksesan dalam penanggulangan bencana.

Menurut Bapak Aris Gibrant selaku Ketua Forum Rescue Relawan Lampung (FRRL) mengenai Resiliensi Komunitas dalam Pengurangan Resiko Bencana dan Kesiapan Kerelawanan Kemanusiaan yaitu  Dalam kegiatan penanggulanagan kebencanaan diperlukan kesiapan relawan dengan adanya kegiatan pelatihan-pelatihan dan dukungan informasi yang akurat dari masyrakat agar memudahkan relawan untuk melakukan tindakan sesuai dengan sasaran kegiatan yang ada di lapangan.

Syarat menjadi seorang relawan

  1. Memiliki Jiwa penolong
  2. Memiliki kekuatan mental
  3. Memahami kondisi fisik sendiri
  4. Mampu menolong dirinya sendiri

Tiga dimensi Resiliensi

  1. Memiliki komitmen untuk menyelesaikan pekerjaan dengan baik
  2. Mampu beradaptasi dengan lingkungan baru
  3. Pantang menyerah dalam menyelesaikan tugas

Selanjutnya adalah Materi mengenai Potensi Bencana di Balik Panorama Indah Indonesia dipaparkan oleh Dr. Surono, DEA selaku Ahi Vulkanologi dan Bencana Geologi di Indonesia . Tatanan Geologis Indonesia berada pada pertemuan tiga lempeng utama aktif dunia. Dampak Positif dari tatanan geologis ini yakni tanah menjadi subur, pemandangan yang indah, cekungan hidrokarbon, jalur mineralisasi, poensi energi baru terbarukan. Selain itu ada dampak negative yang ditimbulkan yakni Indonesia rawan bencana alam geologi yang berupa gempa bumi, tsunami, tanah longsor dan letusan gunungapi karena indonesa memiliki 127 gunung api.

Dari dampak positif kawasan rawan bencana yang subur dan indah membuat banyak aktivitas penduduk serta pemukiman di daerah rawan bencana tersebut. Dari data BNPB tahun 2017 terdapat 148.4 juta jiwa yang bermukim dan beraktivitas di daerah rawan gempabumi dan tsunami, 4 juta jiwa lebih yang bermukimdi daerah gunung api dan 40.9 juta jiwa yang bermukim di daerah rawan longsor. Sehingga Ketika terjadi bencana alam yang cukup besar menimbulkan korban jiwa dan kerugian harta benda yang cukup besar juga. Oleh karena itu kita perlu masyrakat yang memiliki ketahanan dalam bencana.

Peran Pentahelix dalam mitigasi bencana

Dalam mitigasi bencana akademisi, pemerintah dan swasta perlu melakukan penelitian/pemetaan terhadap potensi bahaya. Kemudian masyarakat harus diberitahu bahwasnnya daerah tersebut memiliki potensi bahaya. Serta melakukan pemantauan terhadap potensi bencana tersebut kemudian mengeluarkan peringatan dini ketika terdapat ancaman dari potensi bencana dan melakukan evakuasi terhadap masyarakat.

Sehingga melalui Kerjasama pentahelix tercipta system adaptasi dan mitigasi dengan menciptakan kelestarian lingkungan serta menghormati kearifan lokal.

392 views

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *